Divisi PPM

Opini 03-11

     Ada yang menggelitik, ketika di facebook ada yang bertanya tentang keberadaan divisi PPM di Korpala. Seperti tiba-tiba menemukan barang lama yang sekonyong-konyong muncul, yang ternyata hanya dus dan stikernya, namun isinya tidak tau kemana lagi. Karenaya ada yang kemudian bertanya, barang seperti apa sih itu, sepertinya kenal, tapi tidak jelas. Dan belum selesai dengan rasa senang yang semu, dari sudut lain ada yang kemudian tertawa sinis mengenai 'si dia' yang dulunya bergelut di divisi tersebut.
     Pastinya sih, ada yang tahu, sejak kapan divisi tersebut dihapus dari struktur kepengurusan organisasi kita. Namun bila hari ini kita bertanya, maka sudah pasti tidak ada yang mau unjuk tangan, bahwa hilangnya divisi yang mengapresiasi predikat akademisi dari organisasi pencinta alam seperti Korpala, adalah hasil jerih payahnya. Kita jangan bertanya lagi tentang itu.
     Yang bisa kita analisis kemudian, apakah Korpala masih memerlukan atau membutuhkan divisi PPM itu? Divisi Pengabdian Pada Masyarakat, selama masa hidupnya mungkin belum maksimal dalam aktifitasnya, masih sebatas sunatan massal dan tanam-tanam pohon ala kadarnya (dengan istilah keren 'penghijauan') ataupun penyuluhan sekenanya ketika bersinggungan dengan masyarakat sekitar. Belum ada program terencana yang matang berdasarkan hasil kajian akurat tentang kondisi yang dipilih.
     Kajian akurat dan perencanaa, sesuatu yang jelas adalah bagian para akademisi dengan setumpuk data dan sekarung jalan keluar tentang masalah yang ada. Dan itu adalah kerja mental, kerja moral dan kerja otak. Hasil kerja yang seperti itulah kemudian yang menjadi pembeda antara kelompok pencinta alam yang lahir dari para intelektual di perguruan tinggi, dengan kpa-kpa  yang sekadar mengusung kegiatan menantang di alam bebas tanpa landasan intelektualisme yang kental.
     Di Korpala sendiri, ketika divisi tersebut dibentuk, jelas sekali dengan niat yang mulia, bagaimana titipan hidup dari Tuhan kepada setiap kita anggota Korpala, dapat bermanfaat dengan optimal dan terarah kepada 'alam' yang sama-sama kita cintai ini. Tentu saja, bukan sebatas pemanis bibir, tapi dengan segenap kemampuan sebagai insan-insan yang bergelut di dunia pendidikan tinggi. Ada simbiosis antara tri dharma perguruan tinggi dengan aktifitas inti Korpala.
     Lalu mengapa hari ini, divisi tersebut tidak tampak lagi bekas-bekasnya?
     Ada banyak dugaan yang bisa kita pikirkan, dengan kerendahan hati untuk kritik ke dalam nurani kita sendiri. Misalnya, apakah karena kegiatan di PPM tidak menggambarkan superioritas kita sebagai orang-orang jago berkegiatan lapangan? Tidak memacu adrenalin dalam menghadapi situasi-situasi mencekam yang mengancam jiwa? Atau mungkin karena kita terlalu banyak memacu otot dalam latihan fisik, sehingga otak menjadi lebih mampet untuk dapat menghasilkan karya? Atau mungkin juga karena jumlah anggota yang sudah semakin sedikit sehingga tidak ada lagi alokasi personil untuk mengakomodir seluruh divisi yang ada? Ataukah lagi, kita sudah tidak punya kepedulian yang sejati kepada lingkungan kita, kepada masyarakat kita? Atau, atau, atau... yang lain.. yang masih bisa kita deretkan semakin panjang.
     Akhirnya kembali ke pertanyaan awal, adakah Korpala masih membutuhkan divisi PPM ke depan?

k-058

2 Responses to "Divisi PPM"

  1. Masa kepengurusan dody dd X divisi PPM dihidupkan kembali dengan nama baru divisi PPLH (Penelitina Pengabdian kepada Masyarakat dan Lingkungan Hidup)saya terlibat dengan divisi PPLH saat itu sempat mengadakan seminar tentang Karst dan Pelatihan Metode Penelitian. tetapi pad mubes tahun berikutnya sebagian besar anggota menghendaki Divisi PPLH dihapus dengan alasan sudah include dengan kegiatan lapangan. Alhasil Mubes memutuskan divisi tersebut dihapus.

    demikianlah sedikit yang saya ingat tentang divisi PPLH.

    qaharuddin
    k.291

    BalasHapus